Pages

ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR



OUTING CLASS TO BOGOR PRESIDENTIAL PALACE 19 December 2013
            Pada 19 Desember 2013 lalu, Yayasan Al-Wathoniyah 17 Jakarta Timur mengadakan Outing Class ke Istana Kepresidenan Bogor. Outing Class ini bertujuan untuk mengenalkan kepada siswa-siswi MI dan MTs Al-Wathoniyah 17 Jakarta Timur tentang sejarah dan fungsi Istana Kepresidenan Bogor, selain itu siswa-siswi juga dapat mengetahui serta melihat secara langsung objek sejarah Istana Kepresidenan Bogor ini. Dibantu oleh bapak pemandu kami menjelajahi tiap sudut Istana Kepresidenan Bogor. Belajar tidak melulu di ruangan kelas, tapi belajar dengan melihat langsung objek yang akan diamati sungguh menarik.
Berharap Outing Class kali ini dapat menjadi sumber informasi dan pengetahuan yang berguna kelak bagi siswa-siswi MTs Al-Wathoniyah 17. Seperti kata pepatah “ Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya.” Semoga generasi penerus inilah yang akan menggantikan para pejabat pemerintahan kelak di Istana Kepresidenan. Aamiin. Hehe…
DI bawah ini adalah sejarah singkat tentang Istana Kepresidenan Bogor.
Sejarah Singkat Istana Kepresidenan Bogor
Istana Kepresidenan Bogor terletak di Jalan Ir. H. Juanda No.1 Kota Bogor, Propinsi Jawa Barat, sekitar 60 km dari kota Jakarta dengan luas sekitar 28,86 hektar pada ketinggian 290 meter dari permukaan laut.
Berawal dari keinginan orang - orang Belanda yang bekerja di Batavia ( kini Jakarta ) untuk mencari tempat peristirahatan. Karena mereka beranggapan bahwa kota Batavia terlalu panas dan ramai, sehingga mereka perlu mencari tempat - tempat yang berhawa sejuk di luar kota Batavia.
Gubernur Jendral Belanda bernama G.W. Baron van Imhoff, ikut melakukan pencarian itu dan berhasil menemukan sebuah tempat yang baik dan strategis di sebuah kampung yang bernama Kampong Baroe, pada tanggal 10 Agustus 1744.
Setahun kemudian, yaitu pada tahun 1745 Gubernur Jendral van Imhoff ( 1745 - 1750 ) memerintahkan pembangunan atas tempat pilihannya itu sebuah pesanggrahan yang diberi nama Buitenzorg, ( artinya bebas masalah / kesulitan ). Dia sendiri yang membuat sketsa bangunannya dengan mencontoh arsitektur Blenheim Palace, kediaman Duke of Malborough, dekat kota Oxford di Inggris. Proses pembangunan gedung itu dilanjutkan oleh Gubernur Jendral yang memerintah selanjutnya yaitu Gubernur Jendral Jacob Mossel yang masa dinasnya 1750 - 1761
Dalam perjalanan sejarahnya, bangunan ini sempat mengalami rusak berat sebagai akibat serangan rakyat Banten yang anti Kompeni, di bawah pimpinan Kiai Tapa dan Ratu Bagus Buang, yang disebut Perang Banten 1750 - 1754.
Sketsa bangunannya mencontoh arsitekur Istana Blenheim di Inggris, kediaman Duke of Marlborough, dekat kota Oxford di Inggris.
Istana Buitenzorg mengalami kerusakan yang parah ketika pada masa perang Banten di bawah pimpinan Kiai Tapa dan Ratu Bagus Buang yang terjadi pada tahun 1750-1754. Oleh Baron Van Imhoff, istana yang telah rusak berat itu diperbaiki kembali. Pada masa kekuasaan Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811) gedung itu diperluas dengan melakukan penambahan lebar pada sisi kiri dan kanan gedung. Daendels mendatangkan dan memeliharan 6 pasang rusa totol (axis-axis) yang berasal dari perbatasan India-Nepal, dan populasi saat ini mencapai 785 ekor.
Pada masa Gubernur Jendral Willem Daendels ( 1808 - 1811 ), pesanggrahan tersebut diperluas dengan memberikan penambahan baik ke sebelah kiri gedung maupun sebelah kanannya. Gedung induknya dijadikan dua tingkat. Halamannya yang luas juga dipercantik dengan mendatangkan enam pasang rusa tutul dari perbatasan India dan Nepal.
Kemudian pada masa pemerintahan Gubernur Jendal Baron van der Capellen ( 1817 - 1826 ), dilakukan perubahan besar - besaran. Sebuah menara di tengah - tengah gedung induk didirikan sehingga istana semakin megah, Sedangkan lahan di sekeliling istana dijadikan Kebun Raya yang peresmiannya dilakukan pada tanggal 18 Mei 1817.
Gedung ini kembali mengalami kerusakan berat, ketika terjadi gempa bumi yang pada tanggal 10 oktober 1834.
Pada tanggal 10 Oktober 1834 gempa bumi menyebabkan kerusakan yang parah atas bangunan istana. Pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Albertus Yacob Duijmayer van Twist ( 1851 - 1856 ), bangunan lama sisa gempa dirubuhkan sama sekali. Kemudian dengan mengambil arsitektur eropa Abad IX, bangunan baru satu tingkat didirikan.
Perubahan lainnya adalah dengan menambah dua buah jembatan penghubung Gedung Induk dan Gedung Sayap Kanan serta Sayap Kiri yang dibuat dari kayu berbentuk lengkung. Bangunan istana baru terwujud secara utuh pada masa kekuasaan Gubernur Jendral Charles Ferdinand Pahud de Montager ( 1856 - 1861 ) Penghuni terakhir istana adalah Gubernur. Dan pada pemerintahan, selanjutnya tepatnya tahun 1870, Istana Buitenzorg ditetapkan sebagai kediaman resmi para Gubernur Jendral Belanda.
Jenderal Tjarda Van Stackenborg Stachouwer (1936-1942) yang secara terpaksa harus menyerahkan Istana Buitenzorg ini kepada Jenderal Imamura sebagai pemerintah pendudukan Jepang.
Tercatat sebanyak 44 Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang pernah menjadi penghuni Istana Buitenzorg ini. Selanjutnya istana tersebut diambil alih oleh pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1949 dan difungsikan sebagai Istana Kepresidenan Republik Indonesia.
Akhir perang dunia II, Jepang menyerah kepada tentara Sekutu, kemudian Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Barisan Keamanan Rakyat ( BKR ) sempat menduduki Istana Buitenzorg untuk mengibarkan bendera merah putih. Istana Buitenzourg yang namanya kini menjadi Istana Kepresidenan Bogor diserahkan kembali kepada pemerintah republik ini pada akhir tahun 1949. Setelah masa kemerdekaan , Istana Kepresidenan Bogor mulai dipakai oleh pemerintah Indonesia pada bulan Januari 1950.
Fungsi istana berubah menjadi kantor urusan Kepresidenan serta menjadi kediaman resmi Presiden Republik Indonesia. Sejalan dengan fungsi tersebut, telah banyak peristiwa penting yang terjadi di istana, di antaranya Konferensi Panca Negara pada tanggal 28-29 Desember 1954, pembahasan masalah konflik Kamboja pada forum JIM (Jakarta Informal Meeting) tanggal 25-30 Juli 1988. Peristiwa penting lainnya adalah pertemuan para pemimpin APEC pada tanggal 15 November 1994. Di istana ini pula terjadinya peristiwa penandatanganan Surat Perintah 11 Maret 1966 yang dikenal dengan sebutan Supersemar.
Istana Kepresidenan Bogor memiliki koleksi buku sebanyak 3.205 buah. Selain itu, istana ini juga menyimpan banyak benda seni bernilai tinggi, baik berupa lukisan, patung, serta keramik dan benda-benda seni lainnya. Hingga kini lukisan yang terdapat di Istana Kepresidenan Bogor berjumlah 520 buah.
Di istana ini terdapat 216 buah patung beragam jenis dan ukurannya. Di istana ini juga terdapat koleksi berbagai jenis keramik sebanyak 196 buah. Semua itu tersimpan dan terawat baik di museum-museum yang ada di lingkungan Istana Kepresidenan Bogor.

Kepustakaan dan Benda Seni
Istana Kepresidenan Bogor mempunyai koleksi buku sebanyak 3.205 buah yang daftarnya tersedia di kepustakaan istana. Istana ini menyimpan banyak benda seni, baik yang berupa lukisan, patung, serta keramik dan benda seni lainnya. Hingga kini lukisan yang terdapat di istana ini adalah 448 buah, dimana judul/nama lukisan itu, pelukisnya, tahun dilukisnya, tersedia dalam bentuk daftar sehingga memudahkan siapa saja yang ingin memperoleh informasi tentang lukisan tersebut. Begitu pula halnya dengan patung dengan aneka bahan bakunya. Di istana ini terdapat patung sebanyak 216 buah.
Di samping lukisan dan patung, Istana Bogor juga mengoleksi keramik sebanyak 196 buah. Semua itu tersimpan di museum istana, di samping yang dipakai sebagai pemajang di setiap ruang/bangunan istana.
Menurut data kepustakaan, di Istana Kepresidenan Bogor terdapat 37 bangunan. Beberapa bangunan utama nya memiliki fungsi penting.
  Gedung Induk, terdiri dari delapan ruang , yaitu Ruang Garuda yang berfungsi sebagai Ruang Resepsi, disini juga pertemuan - pertemuan besar dapat dilaksanakan.
Ruang Teratai yang berfungsi sebagai ruang penerimaan tamu.
Ruang Film pernah berfungsi sebagai ruang pemutaran film pada masa Presiden Soekarno. Ruang Makan yang berfungsi sebagai ruang makan utama.
 Ruang Kerja Presiden yang pernah berfungsi sebagai tempat bekerja Presiden Soekarno. Ruang Perpustakaan yang pernah berfungsi sebagai ruang perpustakaan Presiden Soekarno. Ruang Famili dan Kamar Tidur yang berfungsi sebagai tempat / ruang tunggu Presiden jika akan mengikuti aneka acara di Ruang Garuda.
Ruang Tunggu Menteri yang berfungsi sebagai ruang tunggu para menteri jika mereka akan mengikuti acara - acara di Ruang Garuda.
 
  Gedung Utama Sayap Kiri, terdiri dari dua ruang, yaitu  Ruang Panca Negara, yang pernah berfungsi sebagai ruang Konferensi Panca Negara / persiapan Konferensi Asia Afrika di Bandung, Ruang Tidur dan Ruang Tengah, yang difungsikan sebagai tempat menginap Presiden, tamu negara dan tamu agung.
 
  Gedung Utama Sayap Kanan, berfungsi sebagai tempat menginap para Presiden sebagai tamu negara berikut tamu - tamu negara, dan tamu - tamu lainnya. Paviliun Sayap Kiri berfungsi sebagai kantor Rumah Tangga Istana Bogor, sedangkan Paviliun Sayap Kanan berfungsi sebagai tempat menginap para pejabat dan staf tamu negara.
 
  Paviliun I-VI. Paviliun I-V kini digunakan sebagai tempat menginap para pejabat dan merupakan ruang tunggu para menteri apabila ada acara, Paviliun VI digunakan sebagai rumah jabatan kepala istal Di antara bangunan-bangunan lainnya, yang patut dicatat di sini adalah Gedung Dyah Bayurini, yang dilengkapi dengan kolam renang digunakan sebagai tempat istirahat Presiden serta keluarganya jika sedang berada di Bogor. Selain itu, terdapat Gedung Serba Guna yang berfungsi sebagai ruang serba guna: kesenian, pertemuan, tempat artis, dsb. Selebihnya bangunan-bangunan itu merupakan bangunan-bangunan pelengkap kediaman Presiden dan fungsinya pun sejalan dengan jabaran tugas dan fungsi mereka.






0 komentar:

Posting Komentar